Rabu, 18 April 2012
Bisnis Mbah-mbah
Mbah Wasio memang sudah tua dan pernah mengidap penyakit stroke, tambah lagi gaptek. Tapi semangatnya untuk pulih melanjutkan hidup, dan berbisnis untuk menafkahi keluarga patut kita resapi dan ambil sebagai pengalaman berharga. Lebih-lebih kita masih muda dan sehat. Terima kasih mbah Wasio. Semoga Mbah panjang umur dan terus bermanfaat. Amin :)
Salam - Indramayu 19/4/2012
Senin, 14 November 2011
Perjalanan Menuju Bromo : Bagian V
![]() |
| Mudah menemukan warung-warung makan, aneka souvenir, dan penyewaan jaket, terpong atau alat pemotretan di sekitar Penanjakan |
![]() |
| Perpaduan: Sumber daya alam yang begitu potensial, sayang jika tercemari |
![]() |
Berkuda: Selain mobil mobil-mobil
dengan 4WD, berkuda juga merupakan
salah satu sarana transportasi favorit
di Tengger
|
![]() |
| Siap mengantar hingga tujuan: Tak ada salanya anda mencoba jasa kuda-kuda ini tentu akan mendapatkan rasa pendakian yang berbeda |
![]() |
| Rute: Inilah rute yang harus di lalui oleh para pendaki. Jika membawa kendaraan maka harus di parkir di depan Pura, dan seterusnya dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik kuda |
Losari : Kebun Kopi yang Tersembunyi
Siang itu langit kelabu. Kabut menggantung, tertiup angin lembah, mengarak tak tentu. Aku menepis gerimis yang menerpa tubuhku tak habis-habis, hingga aku bergegas masuk menuju ruang respsionis. Mata segar memandang hamparan hijau tebentang, harum bunga tambah menyegarkan pikiran dan suasana. Tumbuhan kopi di mana-mana. Diselingi Kelapa, perdu, dan bunga-bunga. Disinilah aku berada. di kebun kopi losari, Ambarawa.
Sabtu, 11 Juni 2011
Perjalanan Menuju Bromo Bagian IV


Senin, 06 Desember 2010
Perjalanan Menuju Bromo Bagian III
Kamis, 18 Februari 2010
Perjalanan Menuju Bromo Bagian II

Perjalanan Menuju Bromo Bagian I

Minggu, 13 September 2009
Dieng Trip (2) Habis

Menurut informasi, jika ingin ke telaga Warna bagusnya pagi. sekitar jam delapan hingga tengah hari. Warna air danau akan terlihat bedanya ketika diterpa sinar matahari.
Gerakan-gerakan senam kecil aku lakukan, agar darah mengalir segar dan energi memancar. Siap punya siap, akhirnya kami benar benar siap jam setengah enam. sudah termasuk ritual Bob di pagi hari, hehehe. Dan kami segera meluncur ke bukit Sikunir.
25 menit kemudian kami sampai di tempat tujuan, namun bukan semata mata bisa langsung melihat matahari terbit. Kami harus treking dengan derajat ketinggian 40-60 derajat kira-kira ditempuh 20-30 ,menit.
Ketika kami treking, ternyata orang lain udah pada turun. Telak jika ritual menikmati Sunrise telah usai hahahaha. Tapi tak mengapa, ibarat pepatah, tak ada rotan akar pun jadi, kami tetap melanjutkan
pendakian, dan Viola ! kami sampai dan sang surya telah terang benderang melewati cakrawala hahahaha. Luar biasa, walaupun demikian kami tak menyayangkan, karena pemandangan tetap indah untuk di
saksikan.
Hamparan langit biru, kabut perlahan turun mencair bertemu daun daun. keindahan Dieng makin menjadi terlihat dari tempat yang semakin tinggi. Lagi, kami menyaksikan keindahan ciptaan ilahi.
Puas menikmatinya kami pun turun perlahan. Dalam perjalanan, sekali lagi kami menyaksikan sebuah keindahan dataran tinggi yang tak terbantahkan, Danau Cebong. Ya, begitulah namanya.
Danau Cebong Terletak di kaki bukit Sikunir, kami memang tak sempat mendekat, hanya mengabadikan beberapa gambar sebagai latarnya, dan kami melanjutkan perjalanan. Sesuai rekomendasi, rute berikutnya adalah objek utama wisata dataran tinggi dieng, walaupun menurutku tak ada yang lebih utama, karena kesemua tempat wisata di dieng adalah utama dan wajib di kunjungi. Adalah Telaga Warna, air yang memiliki beberapa macam warna dalam satu warna sekaligus. Mantabkan. Biru, hijau, putih, merah.. begitulah kira kira
Cukup lama kami menghabiskan waktu di telaga warna, bersantai menikmati suasana. Sebenarnya telaga di Telaga warna ada rute yang mana jika kita mengikutinya maka kita akan mengitarinya, namun karena kesepakatan bersama maka kami urungkan, mungkin kunjungan berikutnya.. semoga hehehehe.

Setelah makan, kami pun meninggalkan Dieng dengan kesan memuaskan. Masih terfikirkan olehku apakah suatu saat Dieng dilirik militer untuk dijadikan Pangkalan Militer..? semoga jangan, sayang sekali jika alam yang begitu menakjubkan harus tunduk dibawah kekuasaan militer.
Saat pulang kami melewati rute yang sedikit berbeda. Dari Wonosobo kami tak melewati temanggung tapi lewat jalur alternatif yang mana nantinya menuju borobodur.. lumayan, memangkas waktu kira kira satu jam perjalanan.
Hhhaaaahh... terbayar sudah penat dan lelah kami dengan liburan yang tak terlupakan.. sampai ketemu di perjalanan lainnya..
Salam rindu kawan: Kiki, Bob, Diko, dan Topan... sukses selalu guys... :)
Selasa, 08 September 2009
Dieng Trip (1)

Waktu itu masih pagi sekali, saat kami mulai berlari mengejar waktu untuk sampai ketempat tujuan. Matahari rasanya masih enggan meninggalkan peraduan, nyaman oleh buaian kabut dingin yang menyelimuti keheningan.
Sedari malam kami sudah sibuk menyiapkan perlengkapan, dari mulai pakaian, makanan, dan pastinya kamera untuk mengabadikan momen yang tak terlupakan.
Kami memang belum mengenal medan yang akan kami tempuh, jadi persiapan berdasarkan pengalaman, khususnya pengalamanku waktu ekspedisi ke dataran tinggi Ijen, di Jawa Timur.
Jelas, perlengkapan pribadi masing masing menyesuaikan
Dengan sepeda motor kami melaju. Jogja-Magelang tak ada aral melintang, hmmm sebenarnya ada dikit, Topan kebelet B.A.B jadi musti cari POM bensin terdekat guna meluluhkan hasrat, hahahahaha. Berhubung masih pagi, lalu lintas sangat sepi. Nyaman dan bikin hepi. Cuma kira-kira 45 menitan kami sudah melewati Magelang, rute berikutnya adalah melewati pegunungan anggun Temanggung-Wonosobo.
Udara bersih dan eloknya pemandangan membuat kami terhenti untuk istirahat makan dan tak lupa foto-foto. Hijaunya kebun teh di pegunungan Sindoro Sumbing memang bikin mata segar . harmonisasi antara alam dan manusia yang masih cukup terjaga dapat terlihat dari atmosfir suasana yang memesona, membuat dada begitu lega.. Puas menikmati mahakarya ciptahan tuhan, kami pun melanjutkan perjalanan. Dari Wonosobo rute terakhir adalah Dieng.
Jalan Berliku dan terjal dapat terbayar mahal, masih oleh pemandangan yang memukau tiada henti. Dan kami berhenti, lagi lagi untuk foto foto hehehehe. ketemu bule bule cantik, asal Ausi kalo gak salah hihhihii...
Dieng tarnyata jauh dari bayanganku, tak seperti dataran tinggi Ijen di Jawa Timur, Dieng jauh lebih bersahabat untuk wisata santai. Tersedia banyak penginapan dan tempat makan dan Lokasi wisata yang beragam dalam satu areal yang mudah sekali dijangkau. Dengan sekali beli tiket masuk terusan yang hanya berharga IDR 12.000 kita bisa mengunjungi empat tempat wisata yaitu, Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Telaga Warna dan Pengilon, dan Dieng Plateau Theater. Belum lagi tempat tempat menawan yang tak perlu tiket masuk untuk menikmatinya, Gratui !
Satu hal mungkin yang harus diwaspadai bagi yang nggak bisa lepas dari alat komunikasi yang bernama Handphone, cum
Setibanya disana, seperti yang kututurkan sebelumnya, kami menginap di losmen Bu Jono. Tempatnya nyaman kok, bersih juga dan yang pasti terhindar dari panas dan dingin hehehe. Dengan harga segitu yah jangan ngarep fasilitas macam macam. Setelah mengisi amunisi, alias
Lalu setelah begah menghirup asap belerang kami pun bersantai sejenak.. menikmati gorengan panas dan teh hangat di dekat lokasi kawah... hmmm yummy. Lalu ada yang bercerita, kalo dulu ada yang kecebur di kawah itu dan menghilang... hiiii serem banget. Lagi, tak lupa kami berfoto hehehehehe...

Setelah bersepakat, kunjungan wisata selanjutnya adalah Dieng Theater. Seperti namanya, disini kita diperlihatkan tayangan mengenai asal muasal Dieng dan alam Dieng dengan segala potensinya, yang berdurasi sekitar 20 menit.. Diceritakanlah bahwa Dieng itu asal katanya adala Dhi-Yang yang berarti tempat bersemayam para dewa, pantesan indah dan tenang banget. Dulu Dieng adalah letusan dari gunung apa gitu, lupa hehehehe. Ada banyak sumber gas alam di Dieng, sampe sampe ada pembangkit listrik tenaga UAP hebat bukan. Menurut penuturan bapak bapak losmen Bu Jono tempat kami menginap, energi ini tak akan habis, atau kalo pun habis bakal lama sekali. Dengan pengelolaan yang baik, maka energi ini dapat memakmurkan rakyat Dieng selama mungkin. Tidak semua sumber gas alam dapat dikunjungi oleh manusia, karena kandungan dari zat zat tertentu yang sangat beracun da mematikan. Sampe sampe pernah ada tregedi, ratusan warga meninggal karena gas beracun beberapa tahun silam. Wah berbahaya. dan cerita cerita keindahan alam Dieng lainnya.Setelah santai nonton hari sudah lumayan sore. Sebelum pulang ke losmen, kami menemukan tempat santai yang apik untuk foto foto hehehehe.
Minggu, 06 September 2009
Tribute to Dhipta & Dema " The Journey" (2)

Pemotretan sesi pertama dibelakang kuburan yang (cukup) menguras keringat karena harus gondol gondol sepeda onthel meniti jalan sawah dan rimbunnya pepohonan bambu tidak mengurangi kesenangan ku di ponorogo.
Ponorogo adalah
Hmmm begini maksudku. Di
Kalo menurut ku... Kalo kopi mah, selera ya, yang dalam kamus perutku cuma ada kata enak dan enak banget (terkecuali tahu petis hihihihi), kopi di ponorogo standar lah.. Yang buat istimewa adalah person who is yang sedang ngopi and the obrolan warung kopi yang tiada jenuh jenuhnya... Hahahaha...
Hmmm lagi lagi perlu kujelaskan lebih rinci, begini maksudku. Sekarang aku tanya kalian, anggap saja kalian suka ngopi ya.. Berapa lama kalian menghabiskan kopi kalian? 10 menit? 20 menit atau 30 menit paling lama? Hmmm lalu sama siapa kalian ngopi? Teman? Pacar? Atau sendirian.. Bagi mereka diponorogo begini jawabnya..
Mereka bisa ngopi dari warung kopi buka alias dari pagi sampe menjelang lohor.. Berapa gelas kopi yang mereka habiskan untuk waktu selama itu? 1 (satu) gelas saja ! Bahkan mereka baru pulang ketika akan boker saja, atau mendadak ada panggilan tugas atau job dadakan...
Belum cukup menjawab.. Lalu apakah begitu saja? Nggak dong.. Abis boker atau ada tugas dadakan, tetep... Balik lagi ke warung kopi... Bahkan sebelum tidur, ada baiknya ngopi dulu hingga warung tutup atau tunggu di usir penjaga warungnya mantab
Menjawab pertanyaan ke dua, mereka ngopi sama teman kantor, teman bengkel, teman main togel, teman baru, bapak pejabat, anak pejabat, anak tukang, pelajar, dan aktivis ngopi lainnya dan aktivitasnya cuma ngobrol.... Bayangkan ! Ngobrol apa mereka selama itu, dan setiap hari? Hahahahaha
Apakah kalian sudah mulai menemukan keiistimewaannya?
Hmmmm.... Terus terang ini fenomena.. Hmmm sedikit studi komparatif (sok ilmiah) di tempatku juga ada fenomena yang semacam ini, tapi kayaknya gak maniak ekstrim mampus kayak gini.. (hmmm hop hop hop... Waduh sayang banget aku nggak nemu foto ku yang lagi ngopi di ponorogo.. Jadi belum bisa berbagi gambar... so, aku kasi liat foto lainnya yang menyangkut kunjungan ku di ponorogo aja yah hehehehe maaph)
Hmmm jadi panjang lebar menceritakan budaya ngopi deh hehehe... beberapa tempat ngopi asik di ponorogo yang aku sarankan adalah, di pasar (lupa nama pasarnya) kalo siang hari. Kalo malamnya di deket alun alun atau di jalan baru sambil makan pecel sama kalo mau cuci mata, soalnya penjaja warung kopinya adalah anak anak cewek SMA yang masih lugu lugu sekaligus centil kalo ngeliat cowok cakep dikit hu, parah (siapa yang parah?) hahahahaha.
Ponorogo, sudah beberapa kali aku kunjungi. Saat pertama adalah ketika berlangsung festival reog nasional tahun 2007 bulan sura.. Kira kira bulan januari. Hunting foto bersama teman teman ku dari LPM Himmah UII. Kunjungan berikut dan berikutnya masih dalam rangkaian hunting foto. Memang banyak hal menarik yang dapat diabadikan disana.
Selain kopi, makanan di ponorogo juga maknyus maknyus dan tergolong murah. Yang khas adalah sate ayam ponorogo, lalu ada nasi pecel, dan satu lagi yang nggak terlewatkan adalah balungan, alias tulang sapi rebus segede gambreng yang dimakan pake dua tangan sambil di hisap srrruuuup dengan kuah kental… hmmmm yummy, dijamin pasti bikin program diet jadi berantakan hahahahaha.
Haaah, lebih kurang begitulah hari hari kulewatkan di ponorogo. Bersiap untuk sesi pemotretan selanjutnya dipacitan, yang pasti lebih seru. Karena ada tambahan dua orang fotografer yaitu Aik dan Opin. Tunggu kisahnya
Nb: budaya ngopi di ponorogo memang sangat kental, sekental kopi hitamnya, namun tidak semua orang diponorogo menghabiskan hidupnya di temaram warung kopi. Yang ibu ibu tetap di dapur, anak anak tetap sekolah, pemudanya tetap kerja (bagi yang kerja), dan bapak bapak tetep ngantor (bagi yang ngantor). Kalo nggak ada, cari aja di warung kopi. Pasti nemu hahahahaha.
Rabu, 02 September 2009
Tribute to Dhipta & Dema " The Journey" (1)
Sesi #1, 22 Juni 2009Disana tuh ada jalan tanah.. kira kira selebar dua motor yang disampingnya ditumbuhi bambu sepanjang jalannya ki... ada sungai kecil juga tutur lumayanlah buat pemotretan. ntar properti pemotratannya bisa pake sepeda onthel kakakku. tutur Babe saat diperjalanan.
wah pasti bakalan keren nih, pikirku. lalu sepanjang perjalanan kami berdiskusi tentang rencana pemotretan sore harinya. pembicaraan kami juga tidak monoton tentang pemotretan hari itu, tapi juga rencana pemotretan seminggu !
Ngalur ngidul kami membicarakan konsep pemotratan, akhirnya tiba juga di lokasi pemotretan yang diceritakan babe.
memang tak jauh berbeda seperti yang diceritakan babe, tapiii...
"hmmm be, ini lokasinya ya? hhmm koq agak rimbun ya?" hmmm iya juga ya ki, perasaan beberapa bulan yang lalu aku kesini belum serimbun ini hehehehehe. kayaknya agak gelap ni kalo pemotretan disini, gak dapet cahaya yang baik. ini kalo ditambahin efek smoke kayak kata kamu bukan jadi lokasi pemotretan lagi ki, tapi lokasi syuting "uka uka" hahahahahaha, timpal Babe.
"aku sih pengennya bambunya terlihat batangnya gitu be.. biar bisa main komposisi hehehe. trus ada shadow dari daun daunya untuk tekstur backgroundnya hehehehe, okelah, kita coba aja be.."
setelah itu kami menuju rumah kakaknya babe yang berlokasi tidak jauh dari lokasi pemotretan untuk melihat sepeda yang dijanjikan babe. memang betul, betul betul klasik dan orisinil.. setelah sebentar bercakap cakap dengan kakaknya babe kami pun undur diri.
Dalam perjalanan pulang, sepertinya aku dan babe satu rasa tentang lokasi pemotretan yang tadi kami lihat, yaitu kurang sreg. sepanjang perjalanan pulang, aku dan babe clingak clinguk kiri kanan sapa tau aja nemu lokasi pemotretan alternatif..Belum seberapa jauh babe memperlambat laju scorpionya., lalu masuk ke sebuah tempat dan ternyata tempat itu adalah kuburan...
"weh, be.. ngapain kesini? mau ziarah kah?" rupa rupanya babe punya insting yang kuat. ada tempat bagus disini ki, kata babe. kami pun mulai eksplorasi tempat yang menjadi insting babe tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah KUBURAN..
hmm.. beberapa saat kami melihat kondisi lokasi, lalu mata kami tertuju pada satu tempat (dibelakang kuburan) yang kayaknya bagus. lalu kami berjalan menyusuri jalan setapak melewati dahan dahan bambu dan pematang sawah yang renyah menguning, hmmm sedap. dan Viola ! sampailah kami pada lokasi, yang menurut kami tempat yang cocok banget buat pemotretan..
Rumusnya adalah gabungan antara langit biru, sawah yang menguning, cahaya matahari yang menerobos celah celah bambu, dan didukung oleh properti sepeda onthel klasiknya babe hasilnya sama dengan Keren ! hehehehehe.
Setelah eksplorasi beberapa saat kami pun bergegas pulang, guna mempersiapkan tenaga dan wardrobe, tentunya aku juga mempersiapkan alat perang yaitu berupa kamera. Canon 30 d dan 1000 d, lensa kit, Flash, reflektor dan sebagainya. oh iya, babe juga meminta bantuan Amed sebagai reflektor men, alias sahabat yang membantu megangin reflektor.
properti segera di siapkan dan dimasukkan kedalam mobil, setelah itu aku, babe, dan dema menjemput amed lalu meluncur ke lokasi pemotretan yang telah kami tentukan. alhamdulilah proses perjalanan tanpa halangan, sepeda onthel pun muat masuk kedalam mobil, dengan bantuan amed, dibelakang yang megangin sepeda, amed begitu kuat dan hebat.. hehehe.
Sampai di lokasi, tak buang buang waktu, aku pun langsung membidik angel angel menarik yang bakal dijadikan latar pemotratan. kolaborasi antara aku dan amed tak sia sia. amed sebagai reflektor man dapat bekerja sama dengan baik, ditambah dengan modelnya yaitu babe dan dema yang cukup fotogenik sehingga aku kerap lupa mengarahkan gaya, dan lagi memang aku tak pandai mengarahkan gaya, dasar wartawan jalanan taunya cuma motret demo.. sekalinya motret model jadi agak canggung hehehehe. tapi tidak juga jadi kendala.
Pemotretan tetap berjalan dan mangasikkan. cuaca yang bersahabat saat itu jadi menambah semangat memotret. pemotratan pertama begitu seru.. onthel yang jadi properti utama diangkut sana angkut sini padahal tidak mudah untuk sering sering memindahkan sepeda di lokasi persawahan hahaha. jangankan itu, untuk membawa sang onthel ke lokasi pemotretan saja sudah bercucuran keringat, mengingat medannya adalah jalan pematang, rimbunnya bambu, dan yang pasti KUBURAN, coba saja kalau berani melangkahinya dengan sepeda, bisa disumpahin beser tujuh turunan hahahahaha (astargfirllah, becanda ding). semua itu berkat bantuan amed pula... amed memang hebat hehehehe.
haaaahhh, leganya sesi pertama udah selesai, dan semua pun bergembira... termasuk kuburannya... gak diganggu, berhubung udah ganti shif.. mau keluar jalan jalan huaaaaaaaa, tambah serem aja.. KABURRRRRRR hahahahahahahaha.
(bersambung, sesi selanjutnya... hehehehe)
Thanks banget buat amed... the reflector man hehehehehe... semangat bro ! :)





