
Kiki-Kingkong, Kali Code. Sabtu (4/12)
Hari mulai gelap. Hampir setiap sudut langit kelabu. Hujan rintik. Adzan magrib sebentar lagi berkumandang. Mardoyo. Beliau adalah komandan Rescue KOMPAK (Komunitas Pinggiran Kali Code). Ditengah kesibukannya beliau menyambut kedatangan Kiki-Kingkong. Dibawah komando beliau lebih dari 80 relawan membangun posko tanggap darurat untuk bahaya lahar dingin merapi. “ini adalah kegiatan swadaya masyarakat, segala kebutuhan posko didapat dari bantuan masyarakat sekitar.” Tutur beliau. Posko di Blunyah Gede ini adalah Posko utama yang mencakup wilayah Gemawang, Sendowo, dan Ketinden. Semuanya berada di bantaran kali Code, kelurahan Sinduadi, kecamatan Mlati. Dua pos lainnya tersebar diantara ketiga
wilayah itu.

Posko yang mulai ada sejak tanggal senin (29/11) ini memiliki dua kegiatan utama. Yaitu kegiatan patroli, yang terdiri dari patroli jaga dan patroli kali saat malam hari dimana setiap malamnya ada kurang lebih 10-15 orang yang berjaga di setiap posko, dan kegiatan bersih kali. “kebanyakan potongan kayu, kami membersihkannya. Jika kalinya bersih, maka aliran air akan lancar dan terhindar dari luapan banjir lahar” ungkap Mardoyo. Mardoyo bercerita, sejak kejadian hari senin itu banyak warga yang takut. “banjir lahar menghantam pembatas kali hingga jebol, kami mencoba menutupnya dengan karung yang berisi pasir. Malam itu air masuk kedalam rumah hingga kedalaman satu meter”. Belum ada kepastian hingga kapan posko ini akan berdiri, tapi warga terus siaga. “nanti jika keadaan disini sudah tenang maka para relawan akan saya alihkan ke atas (merapi-red)”. Menurut Mardoyo tahun 1968 air pernah meluap hingga membanjiri kawasan sekitar kali Code. Penulusuran Kiki-Kingkong di laman Wikipedia gunung Merapi memang pernah meletus sekitar tahun itu, tepatnya tahun 1969 yaitu letusan gas. Namun Kiki-Kingkong tidak menemukan informasi tentang dampak dari letusan pada tahun tersebut. Masih dari rilis halaman Wikipedia, catatan Geologi modern mencatat letusan terbesar gunung Merapi terjadi pada tahun 1872 dengan tingkat letusan 3-4 VEI (Volcano Explosive Index). Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.
Rintik hujan masih turun, Adzan magrib usai berkumandang. “disini aman, logistik dan kebutuhan relawan bisa diusahakan dari masyarakat, saat ini kami membutuhkan tikar dan tenda”. Pungkas Mardoyo.
2 komentar:
weh,...lu kok sempet motret?
sempet dong, habis makan buru2 motret.. hahaha...
BTW mana tulisan lu.. kog ga muncul2 cuk?
Posting Komentar