Senin, 20 Februari 2012

Motivasi Saja Tidak Cukup


Motivasi itu seperti gelombang, ada saatnya pasang dan ada saatnya surut. Ya, ada saatnya seseorang memiliki motivasi yang tinggi dan ada saatnya seseorang menurun motivasinya. Pada dasarnya, hal itu wajar adanya. Namun bila hal semacam ini terjadi di dunia industri tentu akan membawa beberapa dampak kerugian. Misalnya saja industri UMKM, yang mana “nyawa” dari pada industri tersebut sangat bergantung pada Sumber Daya Manusia-nya atau karyawannya. Apabila semangat dan motovasi sang karyawan tidak konsisten, maka perputaran usaha akan berjalan lambat atau malah cenderung tidak berkembang. Ketika melihat karyawan tidak memiliki motivasi, maka yang biasa dilakukan oleh pemilik usaha adalah memberi semangat atau kata kata motivasi; memberikan insentif bonus; memberikan janji kenaikan tingkat atau jabatan; memberikan tunjangan tertentu; memberikan pelatihan; memberikan liburan; memberlakukan metode hukuman dan hadiah (reward & punishment) dan lain sebagainya. Kesemua cara itu memang dapat meningkatkan motivasi karyawan. Setidaknya beberapa saat. Pada mulanya cara ini mungkin dipandang efektif, namun yang namanya manusia tidak pernah ada puasnya. Lama kelamaan, insentif, tunjangan dan sebagainya tidak akan dipandang lagi sebagai motivasi bagi karyawan, melainkan kompensasi yang wajar untuk diterima. Lantas bagaimana cara memotivasikaryawan yang baik selain menggunakan cara-cara yang telah disebutkan di atas?. Berikut berapa trik yang dapat di gunakan, pertama, Rangkullah mereka. Di saat motivasi karyawan kendur, terimalah dan pahamilah hal tersebut dalam bingkai, bahwa mereka membutuhkan perhatian dari anda sebagai pemilik usaha. Kedua, empati. Berusahalah untuk merasakan apa yang mereka rasakan. Mungkin ada hal-hal di luar pekerjaan yang membuat motivasi mereka kendur, dan mereka tidak cukup berani untuk berbagi dengan anda, karena merasa persoalan tersebut di luar kontek pekerjaan. Ketiga, Dahulukan mendengar dari pada menasehati. Bukan gagasan yang bagus, ketika anda lebih banyak menasehati sebelum tau persoalan karyawan anda. Padahal, anda mungkin bisa mengambil sikap seperti ini “terserah, apa peduli saya terhadap masalah mereka. Yang saya tau mereka bekerja dengan baik”. Ya, sikap demikian sebenarnya sah-sah saja, karena anda adalah pemegang otoritas, namun rasanya sikap tersebut tidak bijaksana. Karena karyawan anda bukan robot dan anda juga bukan robot. Walaupun dalam koridor karyawan-bos, yang namanya hukum kepedulian dan menghargai antar sesama manusia, tetaplah berlaku. Keempat, konsisten terhadap sistem dan aturan yang di sepakati bersama. Bagaimana pun juga, tentu anda ingin usaha anda maju dan lekas berkembang. Maka dari itu tetaplah berfokus pada visi dan misi usaha anda yang telah ditetapkan sedari awal. Ambillah kebijakan-kebijakan yang tegas dan tetap membawa kebaikan bagi anda dan karyawan anda. Jangan asal memberikan bonus, insentif, kanaikan jabatan dan sebagainya apabila belum jelas maksud dan tujuannya. Terakhir, Jadilah contoh. Yang paling penting adalah ketika anda ingin karyawan anda memiliki pengelolaan motivasi yang baik maka jadilah contoh bagi karyawan anda sendiri. Karena biasanya karyawan akan sangat mencontoh anda sebagai pemimpin. Secapek dan seberat apapun masalah yang anda hadapi dan bersikaplah fair, jangan tunjukkan ekspresi palsu. Bila perlu sampaikan pada karyawan anda bahwa anda perlu istirahat sejenak atau mengambil waktu sendiri untuk menyelesaikan persoalan anda, namun demikian dengan tetap menunjukkan sikap yang optimis. Teruslah maju.

0 komentar:

Posting Komentar